Ternyata Oh Ternyata
“Sariiiiiiii!” Suara menggelegar Nyonya Vera, majikanku, membahana memenuhi seluruh sudut rumah besar berlantai dua ini. Tergopoh aku mengangkat rokku sambil berlari menaiki tangga menuju lantai dua. “Kamu dari mana aja sih? Dipanggil dari tadi, baru nongol. Apa yang kamu kerjakan dibawah? Pasti sedang santai ya? Enak aja. Kamu di sini itu dibayar buat bekerja, bukan buat tiduran. Dasar anak kampung! Cepet pijitin badanku.” Aku hanya bisa diam saja mendengar segala tuduhan, ocehan, bahkan hinaan dari majikanku ini. Aku sadar aku orang rendah yang pantas untuk dihina. Aku adalah seorang anak yang tidak tahu siapa orang tuaku. Aku dibesarkan di sebuah panti asuhan di pinggir kota besar. Aku hanya mengetahui bahwa ketika aku bayi dulu, seseorang meletakkanku di depan pintu panti asuhan. Hanya itu yang aku tahu dari Bunda Nuri, ibu dari semua anak-anak panti asuhan tempat aku tinggal. Di panti asuhan itu, sedikit banyak aku mendapatkan kasih sayang dari Bund...